Di dunia ini, berapa banyak dari kita yang menghabiskan seumur hidup hanya untuk diakui, dihormati, dan dikenal oleh manusia lainnya? Kita berlomba-lomba mencari panggung, memoles penampilan, dan mengejar nama besar. Namun, jauh di masa silam, di sudut gersang Yaman, hidup seorang pemuda yang memutarbalikkan logika dunia.
Ia tidak punya apa-apa. Pakaiannya lusuh, tubuhnya pernah digerogoti penyakit kusta, dan ia hanyalah seorang penggembala domba yang diabaikan oleh penduduk negerinya. Jika ia hadir dalam sebuah majelis, tak ada yang menyapanya. Jika ia tidak ada, tak ada yang mencarinya. Namun, siapa sangka, di balik penampilannya yang penuh debu, namanya senantiasa dielu-elukan oleh para malaikat di Arsy.
Dialah Uwais Al-Qarni. Pemuda miskin dari kabilah Murad, Bani Qaran, yang pangkatnya di mata Allah jauh melampaui raja-raja dunia—bukan karena pedangnya, bukan karena hartanya, melainkan karena bakti yang mengalirkan air mata penduduk langit.
Rindu yang Terkalahkan oleh Bakti
Uwais hidup di zaman Nabi Muhammad ï·º, memeluk Islam dari jarak jauh, namun tak pernah sekalipun menatap wajah kekasih Allah tersebut. Hatinya menjerit, memendam rindu yang teramat dalam untuk hijrah ke Madinah dan menatap wajah Rasulullah ï·º, seperti yang dilakukan oleh para sahabat.
Namun, ada satu penahan langkahnya: ibunya yang lumpuh, buta, dan sangat renta.
Suatu hari, kerinduan itu tak lagi terbendung. Uwais memohon izin kepada ibunya untuk pergi ke Madinah. Dengan berat hati namun penuh kasih, ibunya mengizinkan dengan satu syarat, "Pergilah, Nak. Temui Kekasihmu. Namun, setelah engkau menemuinya, cepatlah pulang. Ibu tak punya siapa-siapa selain dirimu."
Dengan bekal seadanya, menembus ganasnya gurun pasir dari Yaman ke Madinah, Uwais melangkah penuh harap. Jantungnya berdebar kencang membayangkan perjumpaan dengan Rasulullah. Namun, setibanya di rumah Nabi, yang menyambutnya hanyalah Sayyidah Aisyah r.a.
"Rasulullah sedang memimpin peperangan," ucap Aisyah.
Hancur hati Uwais. Langit seakan runtuh. Kesempatan yang ia tunggu seumur hidupnya kini kandas. Namun, di tengah kepedihan itu, ia teringat pesan ibunya. Apakah ia harus menunggu hingga Nabi pulang, atau menepati janji pada ibunya yang renta dan menantinya dalam sepi di Yaman?
Dengan air mata yang menetes membasahi pipinya, Uwais memilih ibunya. Ia memutar balik langkahnya, pulang ke Yaman tanpa pernah menatap wajah Rasulullah ï·º. Ia mengorbankan impian terbesarnya demi sepotong surga yang ada di bawah telapak kaki ibunya.
Gendongan Cinta Menuju Baitullah
Kecintaan Uwais kepada ibunya mencapai puncaknya ketika sang ibu mengutarakan satu keinginan di penghujung usianya.
"Anakku, ibu ingin sekali pergi haji ke Baitullah," ucap sang ibu dengan suara bergetar.
Uwais terdiam. Jarak dari Yaman ke Makkah adalah ratusan kilometer. Melewati padang pasir yang panas membakar dan bukit-bukit batu yang tandus. Ia sangat miskin, tak memiliki seekor unta pun, apalagi uang untuk menyewa kendaraan. Namun, melihat wajah rapuh ibunya, Uwais tak kuasa menolak.
Ia melakukan hal yang di luar nalar manusia. Berhari-hari sebelum berangkat, Uwais menggendong seekor anak sapi naik turun bukit untuk melatih fisiknya. Orang-orang menganggapnya gila. Mereka menertawakannya.
Hingga tibalah hari itu. Uwais membasuh wajah ibunya, mengangkat tubuh renta yang kulitnya telah keriput itu, dan menggendongnya di atas punggung. Ya, ia berjalan kaki dari Yaman ke Makkah, menembus terik matahari gurun yang membakar ubun-ubun, menahan angin malam gurun yang menusuk tulang.
Kakinya melepuh, telapaknya berdarah, napasnya tersengal. Namun, setiap kali ibunya bertanya, "Apakah kau lelah, Anakku?", Uwais akan mempererat pelukannya dan tersenyum—meski peluh dan air mata bercampur di wajahnya—seraya berkata, "Tidak, Bu. Berat tubuhmu tidak sebanding dengan beratnya engkau mengandung dan menyusuiku dulu."
Setibanya di depan Ka'bah, Uwais menangis sejadi-jadinya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, di depan Multazam, ia menengadahkan wajahnya ke langit.
"Ya Allah, ampuni semua dosa-dosa ibuku!" pintanya dengan suara parau.
Ibunya yang berada di gendongannya berbisik terharu, "Lalu, bagaimana dengan dosamu, Anakku?"
Uwais menjawab dengan air mata yang menderas, "Biarlah Allah mengampuni dosa ibu, lalu karena ibu masuk surga, ibu membawaku masuk ke dalamnya."
Mendengar itu, sang ibu berdoa kepada Allah agar penyakit kusta/sopak (vitiligo) yang diderita Uwais disembuhkan. Seketika itu juga, Allah menyembuhkan penyakitnya, menyisakan hanya sebesar uang logam (dirham) di pundaknya, sebagai tanda agar Uwais selalu mengingat karunia Tuhannya.
Wasiat Sang Nabi kepada Dua Sahabat Utama
Meski tak pernah bertemu secara fisik, Rasulullah ï·º yang memiliki pandangan kenabian, mengetahui segala hal tentang pemuda suci ini. Suatu hari, di hadapan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, Rasulullah ï·º bersabda:
"Akan datang kepada kalian Uwais bin Amir bersama rombongan dari Yaman... Ia memiliki seorang ibu dan ia sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia bersumpah atas nama Allah, pasti Allah akan mengabulkannya. Jika kalian bisa meminta kepadanya untuk memohonkan ampunan bagi kalian, maka lakukanlah." (HR. Muslim).
Bayangkan. Nabi memerintahkan dua manusia terbaik setelah para Nabi—Umar sang Al-Faruq dan Ali sang Gerbang Ilmu—untuk meminta doa dari seorang penggembala domba yang miskin dan tak dikenal!
Bertahun-tahun setelah Nabi wafat, setiap kali rombongan dari Yaman datang, Khalifah Umar selalu bertanya, "Apakah di antara kalian ada Uwais bin Amir?"
Hingga akhirnya, Umar dan Ali menemukan pemuda itu. Ia sedang menjaga unta-unta milik rombongannya, berpakaian lusuh, jauh dari keramaian. Ketika Umar dan Ali mendekat dan menanyakan namanya, pemuda itu menjawab dengan menunduk. Saat Umar melihat tanda sebesar dirham di pundaknya, menangislah Khalifah yang tangguh itu.
Umar, Amirul Mukminin, penguasa separuh dunia saat itu, bersimpuh di hadapan pemuda miskin tersebut. "Mohonkanlah ampunan untuk kami kepada Allah, wahai Uwais," isak Umar dan Ali.
Uwais terkejut dan merendah, "Kalianlah sahabat Rasulullah, seharusnya kalian yang mendoakanku." Namun karena itu adalah wasiat Nabi, Uwais pun mendoakan mereka. Setelah itu, Uwais meminta satu hal kepada Umar: agar Umar tak pernah lagi menceritakan siapa dirinya kepada orang-orang. Ia kembali menyelinap pergi ke Kufah, menyembunyikan identitasnya, kembali menjadi orang miskin yang tak dipandang sebelah mata oleh dunia, namun begitu benderang di hadapan Allah.
Akhir yang Indah
Hingga akhir hayatnya, Uwais Al-Qarni tetap menjadi manusia yang 'tak terlihat'. Ketika ia wafat, orang-orang Kufah terkejut karena tiba-tiba saja ada begitu banyak orang berwajah bercahaya (para malaikat) yang tak pernah mereka kenal sebelumnya, berbondong-bondong datang memandikan jenazahnya, mengkafaninya, menyalatinya, dan mengantarkannya ke liang lahad.
Dunia mungkin tak pernah mencatat nama Uwais dalam daftar orang-orang kaya atau berkuasa. Tapi, sejauh apa pun kita merangkai kata, tak akan mampu menandingi betapa indahnya posisi Uwais di sisi Tuhannya.
Kisah ini meninggalkan satu tamparan keras bagi hati kita yang masih berdetak. Hari ini, berapa banyak dari kita yang membentak orang tua hanya karena urusan sepele? Berapa banyak dari kita yang menitipkan mereka di panti jompo karena alasan sibuk bekerja? Berapa banyak dari kita yang merasa berat membelikan mereka sesuatu, padahal mereka telah memberikan seluruh darah dan dagingnya untuk kita?
Uwais Al-Qarni telah mengajarkan: kunci pembuka pintu langit tidak selalu berada pada ruku' yang panjang atau sujud yang semalaman, melainkan bisa jadi terletak pada sebuah senyuman tulus dan bakti tanpa pamrih pada sosok rapuh yang kita panggil, Ibu.
Sumber Literasi dan Rujukan:
Shahih Muslim: Kitab Fadha'il Ash-Shahabah (Keutamaan Para Sahabat), Bab Keutamaan Uwais Al-Qarni. Hadits nomor 2542, memuat secara spesifik perintah Rasulullah ï·º kepada Umar bin Khattab untuk meminta doa pengampunan kepada Uwais.
Hilyatul Awliya' wa Thabaqat al-Asfiya': Karya Imam Abu Nu'aim Al-Asfahani. Kitab ini mendokumentasikan dengan rinci zuhudnya Uwais Al-Qarni, percakapannya, dan kehidupannya yang tersembunyi dari hiruk-pikuk duniawi.
Siyar A'lam an-Nubala: Karya Imam Adz-Dzahabi (Jilid 4, bagian Biografi Tabi'in). Mencatat profil Uwais sebagai salah satu Tabi'in terbaik, perjalanannya, serta momen perjumpaannya dengan Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib.
Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah: Karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, yang turut membahas status Uwais dalam kajian sejarah orang-orang saleh di masa awal Islam (meskipun Uwais masuk kategori Tabi'in, bukan Sahabat).
Kisah-Kisah Tabi'in (Shuwar min Hayaat At-Tabi'in): Karya Dr. Abdurrahman Ra'fat Al-Basya, yang memaparkan kisah dramatis Uwais dalam format yang menyentuh hati dan mudah dipahami, termasuk kisah perjalanannya menggendong sang ibu.




.jpg)

0Komentar