![]() |
| Gambar ilustrasi seseorang makan buah di pinggir sungai |
Sikap Wara’ Ayah Imam Syafi’i: Kisah Buah Delima dan Hikmah Besarnya
Nama Imam Syafi’i tentu sudah sangat dikenal di kalangan umat Islam. Beliau adalah salah satu imam mazhab yang ilmunya menjadi rujukan utama dalam fikih, terutama di Indonesia. Sejak kecil, Imam Syafi’i menunjukkan kecerdasan luar biasa—hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun dan menjadi mufti di usia 15 tahun.
Imam Asy-Syafi’i. Nama aslinya Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’, dan bertemu dengan nasab Rasulullah dari Abdul Manaf. Artinya, Imam asy-Syafi’i berasal dari suku Quraisy dan bertemu nasabnya dengan baginda Nabi, meski bukan keturunan beliau saw..
Imam Asy-Syafi’i dilahirkan pada 150 H di Gaza, Palestina. Beliau adalah anak yatim dan miskin. Beliau diasuh oleh ibunya. Kecerdasan Imam Asy-Syafi’i sudah tampak sejak kecil.
Namun, di balik keberhasilan beliau, ada peran besar dari orang tuanya, khususnya sang ayah: Idris bin Abbas, seorang yang dikenal sangat saleh dan memiliki sikap wara’, yaitu berhati-hati terhadap hal yang haram maupun yang belum jelas kehalalannya.
Sebuah Buah Delima di Tepi Sungai
Suatu hari, Idris sedang dalam perjalanan dan merasa sangat lapar karena bekalnya telah habis. Saat beristirahat di tepi sungai, ia melihat sebuah buah delima hanyut terbawa arus. Karena rasa lapar yang sangat, ia langsung memakannya.
Namun, saat baru beberapa gigitan, ia tiba-tiba terdiam. Dalam hatinya muncul pertanyaan:
“Apakah buah ini halal untukku? Bukankah aku tidak tahu siapa pemiliknya?”
Kecemasan itu muncul karena sikap wara’ yang sangat kuat dalam dirinya. Idris tidak ingin memakan sesuatu yang tidak jelas status kehalalannya. Ia pun bertekad mencari asal buah delima itu dan meminta kehalalan dari pemiliknya langsung.
Perjalanan Mencari Pemilik Kebun
Idris pun menyusuri sungai ke arah hulu, berusaha menemukan pohon delima yang buahnya serupa. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya ia menemukan kebun delima yang tampaknya menjadi asal buah tersebut. Ia lalu mencari tahu siapa pemilik kebun itu, dan ketika bertemu, ia menceritakan apa yang terjadi:
“Saya menemukan buah delima di sungai dan sudah memakannya. Saya ingin meminta kehalalan dari Anda.”
Pemilik kebun menjawab, “Kalau engkau ingin aku halalkan, maka syaratnya adalah engkau harus bekerja di kebunku selama satu bulan tanpa upah.”
Tanpa ragu, Idris pun menerima syarat itu dan bekerja selama satu bulan penuh.
Syarat Tambahan yang Tak Disangka
Setelah satu bulan berlalu, Idris kembali menemui pemilik kebun dan berkata bahwa ia telah memenuhi syarat. Namun, sang pemilik kebun berkata lagi:
“Kamu memang sudah memenuhi syarat, tapi ada satu lagi: kamu harus menikah dengan putriku. Namun, perlu kamu tahu, dia buta, tuli, bisu, dan lumpuh.”
Sempat terdiam dan merasa ragu, Idris akhirnya menerima syarat tersebut demi mendapatkan keikhlasan dan kehalalan dari pemilik kebun. Baginya, ridha Allah jauh lebih penting daripada urusan dunia semata.
Kebenaran di Balik Kalimat Sang Pemilik Kebun
Setelah akad nikah selesai, Idris dipersilakan masuk menemui istrinya. Betapa terkejutnya ia saat melihat bahwa sang istri ternyata adalah gadis yang sehat, cantik, dan anggun.
Idris pun kembali menemui pemilik kebun dan bertanya:
“Apakah saya tidak salah kamar? Gadis itu bukan seperti yang Anda ceritakan.”
Pemilik kebun pun tersenyum dan berkata:
“Engkau tidak salah. Dia adalah putriku. Aku menyebutnya buta karena ia tidak pernah melihat hal yang haram. Ia tuli karena tidak pernah mendengarkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Ia bisu karena tidak pernah mengucapkan perkataan sia-sia. Dan ia lumpuh karena tidak pernah melangkah ke tempat maksiat.”
Sungguh, jawaban itu menunjukkan betapa salehnya gadis tersebut. Dari pernikahan inilah, Allah menganugerahkan seorang anak yang kelak dikenal dunia sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Idris Al-Syafi’i.
Makna Wara’ dan Pentingnya dalam Kehidupan
Dari kisah ini, kita belajar tentang pentingnya sikap wara’—menjauhi segala sesuatu yang haram dan syubhat (yang tidak jelas kehalalannya). Idris memberi contoh nyata bagaimana menjaga diri dari makanan yang tidak jelas asal-usulnya bisa membawa keberkahan luar biasa dalam hidupnya.
Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Burhan Al-Islam Al-Zarnuji menjelaskan bahwa salah satu sikap penting bagi penuntut ilmu adalah wara’. Sikap ini menjaga seseorang dari perbuatan tercela dan membuat proses belajarnya menjadi mudah serta ilmunya menjadi bermanfaat.
Beberapa contoh sikap wara’ dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
- Tidak berlebihan dalam makan dan tidur.
- Menghindari makanan yang tidak jelas kehalalannya.
- Menjaga lisan dari perkataan yang tidak bermanfaat.
- Menghindari tempat atau aktivitas yang mendekati kemaksiatan.
Penutup
Semoga kisah ini menginspirasi kita untuk lebih berhati-hati dalam setiap langkah hidup. Karena dari satu sikap wara’ saja, bisa lahir keberkahan yang tak terbayangkan. Seperti Idris, yang karena sikapnya menjaga diri dari sesuatu yang syubhat, Allah anugerahi istri salehah dan anak yang menjadi ulama besar.
Wallahu a’lam.
Diambil dari : https://www.ponpesnurulquranhdwrjogja.com/dibalik-kesuksesan-imam-syafii-kisah-ayah-yang-rela-jalan-jauh-demi-kehalalan-satu-buah/




.jpg)

0Komentar